Ahlak

Baik shalatnya = baik amalnya; Baik hatinya = baik shalatnya
Barangsiapa yang baik shalatnya, akan baik pula seluruh amalnya. Barangsiapa yang buruk shalatnya, maka akan buruk pula seluruh shalatnya. Barangsiapa yang baik hatinya, maka akan baik shalatnya. Dan barangsiapa yang buruk hatinya, maka akan buruk shalatnya.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.”

(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1358 karena banyak jalannya)

Dan juga sabdanya:

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً،

“…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging

إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ

apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya

وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ،

dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya.

أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”

[HR al Bukhari (1/28 no. 52), Muslim (3/1219 no. 1599), dan lain-lain, dari hadits an Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhuma-]

Berkata para salafush shalih:

dari Ibrahim bin Qays rahimahullah, ia berkata:

“Dahulu mereka apabila mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu, mereka melihat (terlebih dahulu) pada shalatnya, sunnah serta sikap hidupnya, kemudian barulah mereka mengambil (ilmu) nya”.

(ad-Darimiy)

dari Abul ‘Aliyah rahimahullah ia berkata:

“Dahulu kami jika menemui seseorang untuk mengambil (ilmu) nya, maka kami melihat (bagaimana) shalatnya, jika ia baik dalam menunaikannya, kami duduk dengannya.”

Lalu kami berkata:

“Dia (dalam amalan selain shalat) pasti lebih baik”

tetapi jika ia buruk dalam menunaikan (shalat)nya, maka kami segera beranjak pergi meninggalkannya…lalu kami katakan:

‘Dia (dalam amalan selain shalat) pasti lebih buruk”.

(ad-Darimiy)

Demikianlah cara salafush shalih dalam mencari teman dan memilih guru… mereka melihat dari shalatnya.

Kita melihat SEBERAPA DEKAT atau JAUHnya seseorang dengan sunnah nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, CUKUP dengan shalatnya…

Bahkan JAUH-JAUH sebelum melihat shalatnya. kita bisa melihat bagaimana kesesuaian penampilannya dengan sunnah? Apakah ia membiarkan jenggotnya atau malah mencukurnya? Kita pun melihat bagaimana tata cara ia berpakaian, Apakah ia berpakaian dengan pakaian yang sesuai syari’at ataukah tidak?

Kita pun bisa melihat bagaimana KEBERSIHAN dirinya, apakah ia menjaga kebersihan dirinya? dalam hal MULUT, BADAN, atau RAMBUT, atau PAKAIAN?

Kita pun bisa melihat bagaimana ia melepas sandalnya, apakah ia melepas dengan kaki kanannya duluan atau kaki kirinya?

Kita pun bisa melihat BAGAIMANA ia BERWUDHU’, Apakah tata caranya sesuai dengan tuntunan nabiy? apakah wudhu’nya SEMPURNA? Apakah ia zhalim dalam wudhu’nya (yaitu dengan berlebih-lebihan dalam hal jumlah dan dalam pemakaian air)? Apakah ia meremehkan atau tidak?

Kita pun melihat bagaimana shalat wajibnya? Apakah ia senantiasa melaksanakannya ataukah tidak?

Apakah ia sering terlihat berjama’ah dimesjid ataukah tidak? Kalau ia shalat dimesjid, maka bagaimanakah KEDISIPLINANnya dalam menjalankan shalat berjama’ah? Apakah ia hadir sebelum adzan? Ataukah paling tidak hadir sebelum iqamah? dan bagaimanakah ia mengamalkan amalan-amalan yang berkaitan dengan mesjid?

Kitapun bisa melihat bagaimana ia melaksanakan shalat sunnah? Misalkan ketika ia shalat sunnah tahiyatul mesjid atau qabliyah (karena biasanya shalatnya seseorang itu, akan nampak pada shalat sunnahnya. baik atau tidak?) Apakah pandangannya ke arah kiblat atau melirik2? apakah ia thu’maninah ataukah tidak? Apakah gerakan-gerakan shalatnya sesuai dengan sunnah atakah tidak?

Bagaimanakah ia MEMPERHATIKAN shaff? Apakah ia meluruskan dan merapatkan? Apakah ia MENGINGATKAN temannya jika ada yang kurang sempurna?

Bagaimanakah ia TAAT kepada imam saat shalat? yakni tidak mendahului dan tidak pula terlalu lambat dalam mengikutinya?

Bagaimanakah pula sikapnya ketika berjalan ke mesjid ketika ia masbuq? Bagaimanakah ia masuk ke dalam shaff ketika masbuq? Apakah ia langsung mengikuti apapun gerakan imam ketika ia masuk ke dalam shaff?

Kita pula melihat apa yang ia lakukan setelah shalat? Apakah ia berdzikir dengan khusyu? Yaitu ia tidak MELIRIK keatas, kebawah kekanan kekiri saat berdzikir? Apakah ia TENANG DALAM BERDZIKIR? TIDAK KOMAT KAMIT?

Semuanya ini bisa mencerminkan amalan-amalannya yang lain, walaupun perkara hati kita serahkan kepada Allah, Allah-lah yang menilainya.

Maka jika engkau ingin melihat kebaikan hatimu, LIHATLAH shalatmu. dan jika engkau ingin memperbaiki amalan-amalanmu, maka PERBAIKILAH SHALATMU. dan jika engkau ingin memperbaiki shalatmu, PERBAIKILAH HATIMU.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s