Suasana hati

Ketahuilah aktifitas hatimu!
Ketahuilah wahai saudaraku -yang semoga Allah merahmatiku dan juga kita semua-, kita harus mengetahui aktifitas hati kita.

Ketahuilah -sebagaimana dijelaskan oleh para ulama- bahwa aktifitas hati itu ada tiga:

(1) Besitan hati,
(2) Niat untuk melakukan perbuatan,
(3) Tekad yang kuat untuk melakukan perbuatan.

1. Besitan hati

Adapun besitan hati, maka apapun yang terbesit dihati, kemudian kita melupakannya, maka ini bukanlah amalan hati. besitan hati ini bisa berupa kebaikan* maupun kejahatan. adapun kebaikan, datangnya dari Allah; adapun kejahatan, datangnya dari syaithan.

*Yang dimaksud dengan kebaikan adalah APA-APA YANG SESUAI dengan keterangan yang datang dari Allah (yaitu yang sesuai dengan al-qur-aan, as-sunnah YANG SHAHIIh, menurut pemahaman salafush shalih). adapun sesuatu yang DIANGGAP BAIK namun menyelisihi yang telah disebutkan diatas, maka hal tersebut merupakan bukan merupakan kebaikan.

Jika besitan hati adalah kebaikan, maka hendaknya kita menetapkan hal tersebut dalam hati kita. Ketetapan hati inilah yang disebut dengan niat.

Jika besitan hati adalah keburukan, maka hendaknya kita memeranginya, agar hal tersebut tidak menjadi niat jelek, jika terbentuk menjadi niat, maka jangan sampai kita menjadikannya sebagai tekad yang kuat; karena jika masih menjadi besitan hati atau masih niat, maka hal tersebut masih diampuni Allah; selama tidak dijadikan tekad yang kuat atau diucapkan atau diamalkan.

Adapun besitan hati ini, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ بِهِ أَوْ تَكَلَّمْ

“Sesungguhnya Allah memaafkan apa yang terbetik dalam hati seorang hamba dari umatku selama belum ia amalkan atau ucapkan.”

(HR. Ahmad, Bukhariy, Muslim, Ibnu Maajah, Nasaa-iy; dan lain-lain)

2. Niat dalam melakukan perbuatan

Hal ini merupakan tingkatan diatas “sekedar besitan” karena hal ini merupakan “penindaklanjutan” dari besitan niat tersebut.

Sekali lagi, niat ini bisa baik, bisa buruk. Niat yang baik, maka akan diberikan SATU KEBAIKAN oleh Allah, sedangkan niat yang buruk maka TIDAK DICATAT sebagai SATU KEJELEKAN.

Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ

Allah menulis kebaikan dan kejahatan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

“Siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan, bahkan hingga dilipatgandakan tujuh ratus kali, bahkan lipatganda yang tidak terbatas.

وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sebaliknya barangsiapa yang berniat melakukan kejahatan kemudian tidak jadi ia amalkan, Allah menulis satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat kejahatan dan jadi ia lakukan, Allah menulisnya sebagai satu kejahatan saja.”

[HR. Bukhory & Muslim]

Dimaksudkan disini, adalah niat yang TIDAK SAMPAI kepada derajat TEKAD YANG KERAS/KUAT. Jika telah mencapai TEKAD yang kuat, maka hal tersebut ditulis sebuah kebaikan atau keburukan WALAUPUN orang tersebut TIDAK MENGAMALKAN apa yang menjadi tekad yang kuat.

(sebagaimana akan dijelaskan…)

‎3. Tekad yang kuat

Hal inilah telah disebut AMALAN, walaupun orang tersebut TERHALANGI dalam mengamalkan secara lisan/anggota badan atas apa yang menjadi tekadnya tersebut.

Pebedaan antara niat dan tekad yang kuat adlaah tekad yang kuat mengkonsekuensikan adanya amalan. seseorang yang bertekad kuat, maka jika ia memiliki kondisi yang menungkinkannya untuk beramal dengan tekadnya tersebut, maka ia akan mengamalkannya. Maka orang yang tidak memiliki sarana dalam mengamalkannya, sedangkan dirinya BENAR-BENAR BERTEKAD KUAT dalam mengamalkannya, dan ia JUJUR/BENAR dalam tekadnya tersebut. Maka ditulis baginya kebaikan/keburukan tergantung apa yang ditekadkannya tersebut walaupun ia terhalang dalam mengamalkan apa yang diniatkannya tersebut.

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ

Dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya/menghafalnya.

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ

“Dunia itu diberikan kepada empat golongan:

وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ

(2) Dan seorang hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak diberi harta, dia adalah seorang yang benar niatnya.

يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dia katakan, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti amalan Fulan’, maka dengan niatnya itu, pahala mereka berdua sama.

وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا

(4) Dan seorang hamba yang tidak Allah beri harta maupun ilmu,

فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan’, maka dengan niatnya itu dosa mereka berdua sama.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2325, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

Berkata Imam Ibnu Hajar dalam al-Fath:

Maka dikatakan, pengkompromian antara dua hadits adalah dengan menyatakan bahwa hadits tersebut berkaitan dengan dua kondisi (yang berbeda).

Kondisi pertama adalah orang yang sekedar ingin bermaksiat saja tanpa berketetapan hati (maka tidak berdosa, seperti hadits bukhory dan muslim diatas).

Kondisi kedua adalah orang yang ingin maksiat dan berketetapan hati* serta terus menerus dengan ketetapan hatinya (maka ia berdosa berdasarkan hadits tirmidziy diatas).

[lihat faathul baariy]

*Yaitu ia memiliki tekad yang kuat, sehingga seandainya ia memiliki sarananya niscaya ia akan mengamalkan niatnya tersebut; seperti kita melihat orang miskin tapi berilmu, ia sangat ingin seperti orang kaya yang berilmu; akan tetapi karena ketiadaan harta, ia tidak bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Namun keinginan yang dihatinya tersebut begitu besar, namun yang menghalanginya dalam mengamalkannya adalah ketiadaan sarana. Maka ia memperoleh pahala yang sama berdasarkan tekad yang kuat tersebut.

Oleh karens itu Rasulullah bersabda:

فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ

Dan ia BENAR/JUJUR niatnya.

Yaitu ia jujur dengan niat tersebut, bukan sekedar angan-angan belaka; yang seandainya saat itu ia seperti orang kaya, maka pastilah ia mengamalkan seperti apa yang diamalkan orang kaya.

Hal ini seperti sabda beliau:

مَنْ طَلَبَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا أُعْطِيَهَا وَلَوْ لَمْ تُصِبْهُ

“Barangsiapa memohon syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan sungguh-sungguh, maka sungguh ia akan diberi pahala seperti pahala mati syahid meskipun ia tidak mati syahid.”

(HR. Muslim)

Permohonannya dalam menginginkan mati syahid benar-benar jujur dalam lubuk hatinya, yang benar-benar ia menginginkan agar ia berperang dijalan Allah, kemudian ia mati dalam peperangan tersebut.

Sebagaimana pula ancaman dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Barangsiapa meninggal sedang ia belum pernah ikut berperang atau belum pernah meniatkan1 dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas cabang kemunafikan.”

(HR. Muslim)

Catatan Kaki

Yaitu yang dalam hatinya sama sekali tidak ada NIAT, apalagi TEKAD KUAT; untuk berperang dijalan Allah. ↩

Posted from WordPress for Android

One thought on “Suasana hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s